Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

Senin, 23 Januari 2012

GIRLS DAY OUT


GIRLS DAY OUT ! 

Intinya hari ini aku mengarungi Banda dan Ambon, dan siapa tahu Asia dan Afrika. 

Jadi ceritanya hari ini aku sedang girls day out atau apalah terserah anda mau sebut apa. bagiku itu girls day out karena kami berlima adalah girl, dan kami out ketika sedang day. 

Itu rencana super mendadak. Tapi jelas aku engga bakal melewatkannya karena merupakan kesempatan langka kami berlima bisa jalan bersama – sama. 

Ironis memang, tapi dirasa – rasa, sepanjang lima belas.. maksudku enam belas (aku lupa umur sendiri) tahun hidupku, kayaknya aku engga pernah girls day out sama sepupu sepupuku yang tinggal di bandung. Maksudku, kami sering day out. Tapi itu family day out. Tapi setelah kutelusuri lagi hari demi hari, rasanya aku ingat aku pernah girls day out. Tapi itu duluuuuu sekali ketika tv belum ditemukan. Dan itu engga kerasa girlsnya karena saat itu aku masih super little girl.. mindly. 

Kalau sama sepupu sepupuku dari keluarga ibu.. rasanya kami lumayan sering girls day out. Meskipun yang beneran girls day out bener – bener jalan jalan itu baru dua kali, tapi setidaknya aku pernah pergi bersama mereka. 

Jadi, demi menyamakan kedudukan, aku meliburkan diri (tolong dimaafkan bapak ketua senior), dan ikut Girls Day Out Dadakan.
Rencananya Cuma mau foto studio aja. What a weird karena sehari sebelumnya kami juga foto studio meskipun studionya itu bisa dibilang studio mobile dan multifungsi karena dia merangkap ruang tamu. Jadi sehari sebelumnya, kami foto – foto pakai PANASONIC LUMIX SE0EA002994 warna pink dengan resolusi 12 MP, lightning alami, dan kursi.. antik. 

Asalnya kami mau berbanyakan, berhubung cucu perempuan Mbah Sunar itu luar biasa banyak. Tapi karena yang hadir hari itu Cuma delapan cucu dan hanya lima yang bisa meliburkan diri (dan libur resmi tentu saja), jadi ya begitulah. 

Lima cucu itu adalah... ta raaaa (diurutkan sesuai senioritas haha) Hafi, Aliya, Annisa, Sari, dan Nisrina. Dan anyway, karena (mba) Hafi lebih tua, jadi kami semua wajib menyematkan gelar Mba didepan namanya. 

Dan kemudian keesokan harinya kami berlima pergilah ke studio Jonas yang terletak di Banda. Pertama kami mengarungi Sunda dengan berjalan kaki, naik armada di Riau, dan disambung berjalan kaki lagi di Banda. 

Di Jonas.. ngantri. Tentu saja. Kapan Jonas kosong ? malam hari tentu saja. 

Jadi kami milih template dulu. Dan aku memasrahkan pilihan pada yang lain meskipun aku yakin aku ambil andil suara juga dalam memilih template. Terus memilih text. Kenapa teksnya kita ganti ? karena disitu tulisannya best friend. Dan sayang sekali kami ini bukan teman, kami adalah sepupu. Meskipun orang – orang boleh mengungkapkan kalau sepupu itu adalah teman, sahabat, etc, akan tetap aneh rasanya kalau tersemat best friend disitu. Narsis mau ditulis best cousin, tapi entar kalo gitu sombong dong. Akhirnya somehow engga jadi ada teksnya. Suatu hal yang kusesali padahal ketika di angkot oops, armada maksudnya, texts are popping in my head. Ya maklumlah aku tak bisa berpikir disaat buru – buru plus under pressure dari suasana sekitar. 

Lalu kami menunggu. Dikasih nomor antrian 35 dan lagi nomor 27 ketika kami mau masuk ke studio. Galau deh. Menanti kami entah berapa ribu detik. Aku bolak balik liat foto yang sama, mencari detail – detail aneh termasuk umur model foto, estimasi dana model untuk liburan, dan ribuan estimasi lainnya untuk menghabiskan waktu. Nonton tv sedikit, plus liat kamera seharga belasan juta dengan lensa terpisah yang harganya dua kali kameranya. Plus liat tripod dan peta tripod yang membuat aku mengingatkan diri sendiri kalau aku mau bawa tripod ke kutub jangan lupa pakai sarung tangan, Plus liat printer yang bentuknya kayak ember yang menurut komik promosinya bisa dibawa kemana – mana untuk printing dimana – mana. Plus liat kalkulator dengan tombol – tombol yang klepek – klepek, plus liat coklat yang kayaknya enak banget ternyata adalah penghapus, plus ngecek photobox penuh atau engga. Dan akhirnya kami hanya duduk. Menanti.
It seems like it takes centuries ketika akhirnya nomor kami dipanggil. Itu juga dipanggil di studio lain. Masuk studio, bebenah dikit, jepret sini, jepret sana, lepas kacamata, jepret lagi, jam tangan jatuh, jepret lagi, jepret lagi, dan thats it. Udah aja. Sumpahnya deh.
Pulangnya, dengan pasrah aku mengikuti kemanapun sepupu – sepupuku pergi. Bukannya ngekor, tapi daerah ini adalah wilayah kekuasaan mereka. Mereka melewati tempat ini nyaris sepanjang hidupnya dan aku melewati tempat ini sepanjang hidupku juga tapi hanya sekilas, dan selalu melewati rute yang sama. Berada di tempat ini, bila sendirian, feels like in middle of nowhere although disana rame banget luar biasa. 

Akhirnya kami makaaaan ! makan – makan – makaaaaan ! suatu hal yang tampaknya sudah menjadi ritual resmi acap kali kita pergi berjalan – jalan sesingkat apapun jalan – jalannya itu. dan mampirlah kami, atau lebih tepatnya, mampirlah mereka dan aku ikut ke Warung Steak. I never been there before, tapi sepupu – sepupuku sudah menganggap WS itu sebagai tongkrongan rutin. Ampun dah benar – benar berasa menjadi strangers. 

Foods taste great, as always. Lalu kami pulang. Berpisah armada. Kami berdadah – dadah, i wish them return home safely as they did to me. Aku menempuh satu jam perjalanan lebih kembali ke wilayah kekuasaanku sendiri. Perlahan aku tidak merasa seperti orang asing lagi.  
 DSC_9755_1.JPG
Greetings from us !
Ini satu dari sekian banyak hasil Girls Day Out hari itu. so look forward to do another girls day out 

Kucing Kreatif pt. III

Kucing Kreatif part III 

Oke, oke saya tahu. Kenapa tiba – tiba ada Kucing Kreatif Part III padahal tidak pernah tersebut dalam sejarah ada Kucing Kreatif Part II. Sejujurnya kawanku yang baik hati dan rupawan, aku sudah pernah membuat Kucing Kreatif Part II, tapi entah dimana ia bersemayam sekarang. Jadi dengan memohon maaf yang teramat sangat, kita skip saja Kucing Kreatif part II

Sejujurnya, harusnya, judul cerita ini adalah Kucing – Kucing Kreatif Part III karena, Subhanallah, Allahuakbar, kucing yang kreatif tidak hanya si kucing yang menjeblos kaca jendela dan eternit rumah saya saja. In fact, ada kucing lain yang mungkin terinspirasi Kucing Terdakwa, melakukan hal yang sama, dan Alhamdulillahnya, eternit yang dijeblos terletak diluar rumah, jadi tidak membuat kerugian materil yang terlalu besar. meskipun sedihnya, eternit yang dijeblos itu kemungkinan besar memakan korban jiwa. 

Jadi begini ceritanya.
Apa saya pernah cerita soal si Pus Meong Pencakar Langit ? ya, ya, pernah. Jadi entah mengapa, semenjak sepupuku tercinta tersayang Hafizh dan adikku tercinta tersayang terkasih yang bernama Alfan menamai si Pus Meong Pencakar Langit yang secara harfiah juga terlibat dalam Penjeblosan Eternit Kamar Saya, banyak sekali kucing yang bertandang kerumah, dengan nama. 

Dari sekian banyak itu, muncullah satu kucing bernama Calico. 

Bedanya dengan Pus Meong Pencakar Langit, Calico ini sopan. Kalau Pus Meong Pencakar Langit (untuk kemudahan, kita singkat PMPP) melihat pintu terbuka, ia akan langsung nyelonong dan hanya Tuhan yang tahu pasti apa tujuannya, Maka Calico, hanya duduk atau tiduran dengan manisnya diteras rumah. Dan bila pintu terbuka, ia langsung mengeong, setelah itu diam, dan kemudian kembali duduk atau tiduran dengan manis, dan hanya Tuhan yang tahu apa maksudnya. Mungkin karena itu, Calico lebih sejahtera dibanding PMPP di bidang kemakmuran perutnya. Karena sisa makanan rumah N4, selalu berakhir, somehow, di perut Calico. Tiap kali kami ingin memberi makan kucing, maka hanya Calico yang ada didepan rumah. PMPP hilang, dan tiap kali ia kembali, Calico sudah kenyang dan pintu rejeki bagi – bagi makanan sudah tertutup rapat. 

Hari – hari berlalu, dan mungkin terjalin hubungan batin antara rumah ini dan Calico. Rasanya aneh bila sehari saja tak melihat Calico didepan rumah, atau tak mendengar meongannya yang memiriskan sekaligus menghibur. 


Lalu suatu hari, Calico tak bertandang lagi kerumah. Sungguh rasanya menyakitkan dan menyedihkan, karena tak ada lagi yang menghiasi hari – hari dengan meong-an. Tapi kemudian hari – hari berlalu, dan aku mulai terbiasa dengan kesepian rumah dari kucing. 

Lalu suatu pagi, aku melihat Ibu sedang beres – beres didepan rumah. Alangkah terkejutnya aku saat menyadari yang Beliau sapu adalah benda – benda yang asing sekaligus tidak asing dimataku. Butuh semenit sebelum akhirnya aku menyadari kalau benda – benda itu mirip, atau malah sama, dengan benda – benda yang kutemukan di TKP ketika terjadi tragedi Kucing Kreatif I 

Dan benar saja, ketika aku mengangkat kepala, mengalihkan arah pandang kira – kira satu meter ke atas.. 

Eternit jebol. 

Lubangnya lumayan mirip dengan lubang yang ada di kamarku. Otomatis aku langsun bertanya siapa pelakunya, dalam hati, aku sudah menyiapkan hukuman bila ternyata yang menjeblos adalah kucing yang sama dengan kucing kreatif part I dan sejujurnya, aku akan marah pada siapapun yang menjeblos eternit itu. tidakkah ia tahu kalau rumah ini sudah mengalami ini sebelumnya ? dan teganya ia mengulang tragedi itu ! 

Tapi sayang beribu sayang, Ibu tak sempat melihat siapa pelakunya. Tapi malam sebelumnya, kami memang mendengar suara kucing berjalan – jalan diatap rumah.
Hari itu pun berlalu. 

Ketika aku pulang kerumah, aku mendengar kabar duka.
Calico ditemukan wafat di rumah sebelah. 

Ibu menduga Calico yang  menjeblos eternit, dan mungkin saking syoknya, ia lupa melakukan kebiasaan kucing untuk mendarat diatas keempat kakinya. Lalu ia jatuh, bertahan beberapa saat, dan kemudian wafat.

Aku menarik napas dalam – dalam, tidak jadi marah. Kali ini tersangka menjadi korban juga. Dan Calico tersayanglah tersangka sekaligus korban itu.  

Calico, oh Calico..

Senin, 20 Juni 2011

one of my friday madness

Tiap jumat, di hari sekolah, aku selalu gila. itu pasti. karena tiap hari jumat, aku dan segenap murid lifeskill sering diberi tugas menulis. dan kalau sudah menulis.. ya anda tahu lah bagaimana tulisan saya berakhir gila atau garing *disingkat garinggilee*. 
waktu itu entah tanggal berapa, yang jelas sudah lamaaaaa sekali, paguru jurnalis memberi kami tugas. Apa yang akan terjadi lima puluh tahun lagi ? aku curi - curi denger *haha* temen - temen aku bilang ada pensil yang bisa menulis sendiri, dkk. Aku mengerjakan tugas  itu di laptop, dengan baterai yang udah sekarat, jadi ujungnya ada bagian yang ke save. Sejauh saat itu, inilah bagian yang bisa diselamatkan : 
*ngedongeng* 


Fifty years later..
Ada yang bikin (semoga aja turunan keluarga aku haha) perusahaan namanya Journey Inc. 
Mereka Bakal ngeadain the real “journey to the center of the earth.” Haha 

Jadi entar ada wahana yang bener – bener nembus bumi. Jauuuuuuuuuh teh kedalam bumi. Lewat hole yang kayaknya tak berdasar. Terus berjumpa dengan inti bumi. Naik kedalam kapsul kaca gitu terus entar kapsulnya masuk kedalam inti bumi. Terus udah gitu kapsulnya itu ada coolernya – jadi nggak akan kepanasan apalagi terbakar apalagi meleleh. Terus ada oxygen machine. Jadi entar nggak akan sesak napas didalam. Pokoknya totally safe karena udah penelitian puluhan taunan lah – entar mungkin seratus taun laginya bisa journey to the center of the earth + menembus inti buminya J dan once more : ITS TOTALLY SAFE – 

Terus ada juga “Journey to The Center of Blue Whale atau Whale Shark.” Mungkin dia juga bikinan Journey Inc. Karena dia bikin journey to the center of the earth juga.
Kalau journey to the center of blue whale (atau mungkin whale shark juga karena dua duanya lumayan –baca : sangat- gede) itu jadi tour kedalam inti paus biru. Jadi ngerasain gimana rasanya jadi ikan makanan paus biru. Mungkin ngerasain juga masuk ke digestivenya. Jadi entar ikut ngerasain dicerna tapi nggak akan kecerna karena blue whalenya udah di masukin semacam chip di otak dan digestivenya udah di rekayasa—jadi kalaupun dicerna nggak akan dicerna – cerna juga – kan nggak mau kan kalau pas masuk jadi manusia keluarnya lagi jadi kotoran ikan paus biru. 

Terus mungkin nanti kalau Journey inc. Sudah sangat sangat kaya. Mungkin mereka akan berhenti menjadi Journey inc. Mungkin mereka akan jual saham dan bikin perusahaan baru bernama : Big Dreams inc. 

Big dreams incorporated itu bekerja dibidang makanan (ga nyambung sama nama perusahaannya). Mereka bikin makanan dengan jutaan rasa (haha mungkin jaman sekarang udah ada). Mulai dari kecoak rasa gula : Sweet Cockroach. Dan kalau mau yang rada spicy dikit mungkin bisa cicip Fried Arachnida with Boiled Ants and Ginger. Kalau mau yang asaaaaam bisa coba Kebab Kaki Seribu dengan Saus Mangga Muda. Tapi saya bukan kokinya jadi entar saya gatau apa aja yang ada di dalam menu listnya. Tapi kemungkinan nanti ada Ayam isi Lintah. Ini pengobatan. Jadi entar lintahnya hidup dan menyerap darah kotor kita – begitu. 

Lalu nanti big dreams inc. Bosan dengan eksperimen begituan dan memutuskan untuk kembali lagi jadi journey inc. 

Lalu mereka bikin Big Dreams of Journey inc. Dan mereka akhirnya membikin journey to the akhirat. Kan kayaknya rame kalau lihat proses ke – akhirat-an dan kembali ke dunia dengan selamat. Alhamdulillah. 

Ya dan bila itu harus terjadi terjadilah. 

ya aku tahu. Garing dan Gila

WISH ! WISH ! WISH

Hari ini aku mampir ke Gramedia, sambil berusaha menahan diri. Tahulah bagaimana kalau aku sudah berjumpa dengan buku – buku cantik dan seksi *hah apaan sih ?* yang begitu menggoda *untuk dibaca*, dan selalu saja, kenapa buku – buku penggoda itu kelewat mahal sih ? 

Jadi begitu melihat lambang Gramedia besar – besar di Arch nya, aku langsung menarik napas, dan karena tidak mungkin menahannya selama aku berada di gramedia, aku menghembuskannya lagi.

Aku berusaha tidak melihat buku yang dipajang didepan. Karena, selalu, buku – buku yang dipajang didepan itu buku yang sangat menggoda. Seperti Es Krim atau Sour Sally di Padang Sahara. 

Tapi sesungguhnya godaan yang sesungguhnya, yang seperti bau Bread Talk setelah empat hari tidak makan atau air putih setelah berlari sepuluh keliling lalu dinaikkan pesawat jet super cepat dan kemudian diturunkan di Padang Mesir saat musim panas dan harus berjalan pulang ke Indonesia adalah buku – buku di bagian belakang. 

Jadi karena itu aku langsung beralih ke buku – buku yang tidak menarik bagiku. Buku – buku self helping dan ya.. semacam itulah.

Tapi ternyata itu tidak membantu sama sekali. buku – buku itu malah terlihat membosankan dan akhirnya, tanpa diperintah, kakiku langsung tahu kemana harus bergerak.
Yap, akhirnya karena tak bisa melawan kaki, aku ikut saja saat kakiku menuntunku kebagian novel – novel di rak yang begitu cantik, super, dan sangat menggoda. Yang ibarat air putih itu. 

Jadi aku melihat – lihat semua buku di rak itu. dan seandainya aku punya uang satu juta di tasku, akan langsung kuhabiskan*setengahnya* untuk membeli semua buku yang kuinginkan yang tampaknya berarti aku memborong satu rak.

Jadi begitulah kisah hidupku di Gramedia hari ini. 

Tapi ada sepenggal kisah hidupku disana yang begitu menyakitkan untukku. Realita yang terlalu kejam.

Ada buku yang kuinginkan, tak ada terjemahannya tampaknya. Full english dan aku tak keberatan karena aku sudah jatuh cinta pada buku itu.

Tapi harganya.. oh yaampun.

Mengapa semua buku menggoda itu harus begitu mahal, oh Ya Allah ?

*menangis garuk – garuk ubin*

Dan seakan hariku belum begitu buruk, aku berjumpa dengan DVD film – film yang... memukau.. menyentuh..  yaampun !


pYzam Page Pets
FreeFlashToys Page Pets