GIRLS DAY OUT !
Intinya hari ini aku mengarungi Banda dan Ambon, dan siapa tahu Asia dan Afrika.
Jadi ceritanya hari ini aku sedang girls day out atau apalah terserah anda mau sebut apa. bagiku itu girls day out karena kami berlima adalah girl, dan kami out ketika sedang day.
Itu rencana super mendadak. Tapi jelas aku engga bakal melewatkannya karena merupakan kesempatan langka kami berlima bisa jalan bersama – sama.
Ironis memang, tapi dirasa – rasa, sepanjang lima belas.. maksudku enam belas (aku lupa umur sendiri) tahun hidupku, kayaknya aku engga pernah girls day out sama sepupu sepupuku yang tinggal di bandung. Maksudku, kami sering day out. Tapi itu family day out. Tapi setelah kutelusuri lagi hari demi hari, rasanya aku ingat aku pernah girls day out. Tapi itu duluuuuu sekali ketika tv belum ditemukan. Dan itu engga kerasa girlsnya karena saat itu aku masih super little girl.. mindly.
Kalau sama sepupu sepupuku dari keluarga ibu.. rasanya kami lumayan sering girls day out. Meskipun yang beneran girls day out bener – bener jalan jalan itu baru dua kali, tapi setidaknya aku pernah pergi bersama mereka.
Jadi, demi menyamakan kedudukan, aku meliburkan diri (tolong dimaafkan bapak ketua senior), dan ikut Girls Day Out Dadakan.
Rencananya Cuma mau foto studio aja. What a weird karena sehari sebelumnya kami juga foto studio meskipun studionya itu bisa dibilang studio mobile dan multifungsi karena dia merangkap ruang tamu. Jadi sehari sebelumnya, kami foto – foto pakai PANASONIC LUMIX SE0EA002994 warna pink dengan resolusi 12 MP, lightning alami, dan kursi.. antik.
Asalnya kami mau berbanyakan, berhubung cucu perempuan Mbah Sunar itu luar biasa banyak. Tapi karena yang hadir hari itu Cuma delapan cucu dan hanya lima yang bisa meliburkan diri (dan libur resmi tentu saja), jadi ya begitulah.
Lima cucu itu adalah... ta raaaa (diurutkan sesuai senioritas haha) Hafi, Aliya, Annisa, Sari, dan Nisrina. Dan anyway, karena (mba) Hafi lebih tua, jadi kami semua wajib menyematkan gelar Mba didepan namanya.
Dan kemudian keesokan harinya kami berlima pergilah ke studio Jonas yang terletak di Banda. Pertama kami mengarungi Sunda dengan berjalan kaki, naik armada di Riau, dan disambung berjalan kaki lagi di Banda.
Di Jonas.. ngantri. Tentu saja. Kapan Jonas kosong ? malam hari tentu saja.
Jadi kami milih template dulu. Dan aku memasrahkan pilihan pada yang lain meskipun aku yakin aku ambil andil suara juga dalam memilih template. Terus memilih text. Kenapa teksnya kita ganti ? karena disitu tulisannya best friend. Dan sayang sekali kami ini bukan teman, kami adalah sepupu. Meskipun orang – orang boleh mengungkapkan kalau sepupu itu adalah teman, sahabat, etc, akan tetap aneh rasanya kalau tersemat best friend disitu. Narsis mau ditulis best cousin, tapi entar kalo gitu sombong dong. Akhirnya somehow engga jadi ada teksnya. Suatu hal yang kusesali padahal ketika di angkot oops, armada maksudnya, texts are popping in my head. Ya maklumlah aku tak bisa berpikir disaat buru – buru plus under pressure dari suasana sekitar.
Lalu kami menunggu. Dikasih nomor antrian 35 dan lagi nomor 27 ketika kami mau masuk ke studio. Galau deh. Menanti kami entah berapa ribu detik. Aku bolak balik liat foto yang sama, mencari detail – detail aneh termasuk umur model foto, estimasi dana model untuk liburan, dan ribuan estimasi lainnya untuk menghabiskan waktu. Nonton tv sedikit, plus liat kamera seharga belasan juta dengan lensa terpisah yang harganya dua kali kameranya. Plus liat tripod dan peta tripod yang membuat aku mengingatkan diri sendiri kalau aku mau bawa tripod ke kutub jangan lupa pakai sarung tangan, Plus liat printer yang bentuknya kayak ember yang menurut komik promosinya bisa dibawa kemana – mana untuk printing dimana – mana. Plus liat kalkulator dengan tombol – tombol yang klepek – klepek, plus liat coklat yang kayaknya enak banget ternyata adalah penghapus, plus ngecek photobox penuh atau engga. Dan akhirnya kami hanya duduk. Menanti.
It seems like it takes centuries ketika akhirnya nomor kami dipanggil. Itu juga dipanggil di studio lain. Masuk studio, bebenah dikit, jepret sini, jepret sana, lepas kacamata, jepret lagi, jam tangan jatuh, jepret lagi, jepret lagi, dan thats it. Udah aja. Sumpahnya deh.
Pulangnya, dengan pasrah aku mengikuti kemanapun sepupu – sepupuku pergi. Bukannya ngekor, tapi daerah ini adalah wilayah kekuasaan mereka. Mereka melewati tempat ini nyaris sepanjang hidupnya dan aku melewati tempat ini sepanjang hidupku juga tapi hanya sekilas, dan selalu melewati rute yang sama. Berada di tempat ini, bila sendirian, feels like in middle of nowhere although disana rame banget luar biasa.
Akhirnya kami makaaaan ! makan – makan – makaaaaan ! suatu hal yang tampaknya sudah menjadi ritual resmi acap kali kita pergi berjalan – jalan sesingkat apapun jalan – jalannya itu. dan mampirlah kami, atau lebih tepatnya, mampirlah mereka dan aku ikut ke Warung Steak. I never been there before, tapi sepupu – sepupuku sudah menganggap WS itu sebagai tongkrongan rutin. Ampun dah benar – benar berasa menjadi strangers.
Foods taste great, as always. Lalu kami pulang. Berpisah armada. Kami berdadah – dadah, i wish them return home safely as they did to me. Aku menempuh satu jam perjalanan lebih kembali ke wilayah kekuasaanku sendiri. Perlahan aku tidak merasa seperti orang asing lagi.

Greetings from us !
Ini satu dari sekian banyak hasil Girls Day Out hari itu. so look forward to do another girls day out


