Aku punya sepeda warna ungu yang cantik dan unik. Warnanya ungu, dan meskipun keranjangnya sudah almarhum, ia tetap cantik. Ia unik karena membuat banyak orang jongkok didekat roda belakangnya ketika sepeda itu parkir, atau membuat orang – orang berteriak : “aliya berhenti dulu dong !” kemudian menghampiri saya, lalu jongkok di dekat roda belakang. Kenapa saudara – saudara ? karena di roda belakang itu ada komik. Beneran ! sayangnya mereka semua yang sudah bersusah payah jongkok didekat roda belakang itu langsung menjep soalnya komiknya berbahasa Inggris, saudara – saudara. Rasanya saya pun baru mengerti keseluruhan isinya kemarin – kemarin.
Jadi, sejak kapan sepeda ungu cantik yang harus segera kuberi nama itu menjadi milikku ? tepatnya tidak tahu. Tapi rasanya, semenjak aku SD, sepeda itu sudah ada dirumahku. Sepeda itu tinggi, dan stylenya beda banget dengan tren style sepeda waktu itu (dan sekarang juga, mungkin). Dia itu sejenis sepeda Watashimai (maksudnya itu loh sepeda yang ada di iklan minuman isotonik yang ada lagunya : watashimaiiiii..). intinya sepeda itu tampaknya didesain untuk pelajar perempuan kesekolah, dan ketika kubilang ke sekolah, berarti benar – benar ke sekolah. jadi ada tempat untuk menyelipkan buku – buku, bangku penumpang yang bisa jadi tempat tas disaat darurat...
Dulu, bisa naik sepeda itu adalah prestasi tertinggi dalam karier bersepeda saya. Karena sepedanya tinggi (dulu), sulit banget untuk bagi seorang saya yang mengalami kelambatan dalam belajar bersepeda untuk selamat sampai tujuan bila naik sepeda itu.
Kasian bangetnya, karena saya bukan orang yang bisa naik sepeda terus – terusan dengan selamat, sepeda itu jadi rusak sana sini. Dan ini merupakan dosa terbesar saya pada sepeda cantik itu.
Dan suatu hari, entah kapan. Dugaan saya jaman saya SMP, sepeda itu nggak dipake lagi. aku juga nggak tahu apa alasan pasti penyebab sepeda itu tertanggal begitu saja. Yang jelas, ia mandeg nggak mau dipake lagi, karena ia memutuskan untuk melukai kakinya sendiri dan organ pentingnya, rantai.
Lalu kemarin – kemarin, setelah sekian tahun cuti (kalau nggak mau dibilang pensiun), aku dan ibu membawa sepeda itu ke bengkel depan. Rada harus sembunyi muka juga sih, soalnya kami bawa sepeda itu ke bengkel motor. Tapi who cares ? (oke, banyak yang ngeliatin sih), sepeda itu motor juga. Sepeda itu motor sehat pecinta lingkungan yang takkan menguras saku untuk BBM, dan tak perlu izin mengemudi.
Jadi akhirnya, after years, sepeda itu terbang kembali.
Sorenya, aku ngajak Alfan bersepeda. Sekalian first official flightnya sepeda ungu itu. tapi sayang banget, kalau dulu sepedanya yang mogok, sekarang aku yang mogok (diluar kehendakku, tentu saja)
Kalau hipotesisku benar, aku menderita tekanan darah rendah atau kurang darah. Karena baru aja bersepeda sekian menit (hal yang biasa dulu aku lakukan –dulu berarti duluuuuuu-) aku langsung tepar duluan. Yah, nggak tepar – tepar banget sih. Penglihatanku langsung memudar, item – item ga jelas lah, jantung aku berdetak nggak karuan (karuan sih sebenarnya), dan nggak tahu ada hubungannya atau engga, yang jelas lidah aku langsung kerasa pait banget. Pokoknya first flight after years yang aku bener – bener gagal dah. Haha.
Padahal first flight ini, aku mengkhawatirkan sepedanya, bukan aku. takut organ utamanya, si rantai, lepas lagi. kalau lepas terus, bisa – bisa beneran pensiun selamanya ini sepeda cantik. Dan aku, meskipun hanya bisa bersepeda rutin didalam kalender, tidak akan mau itu terjadi. Mungkin kali ini si sepeda bilang : “tuh liat kan ! ternyata kau yang capek duluan”
Oh tak tahulah aku.



