Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

Selasa, 24 April 2012

Sepeda Cantik’s First Flight After Years

Aku punya sepeda warna ungu yang cantik dan unik. Warnanya ungu, dan meskipun keranjangnya sudah almarhum, ia tetap cantik. Ia unik karena membuat banyak orang jongkok didekat roda belakangnya ketika sepeda itu parkir, atau membuat orang – orang berteriak : “aliya berhenti dulu dong !” kemudian menghampiri saya, lalu jongkok di dekat roda belakang. Kenapa saudara – saudara ? karena di roda belakang itu ada komik. Beneran ! sayangnya mereka semua yang sudah bersusah payah jongkok didekat roda belakang itu langsung menjep soalnya komiknya berbahasa Inggris, saudara – saudara. Rasanya saya pun baru mengerti keseluruhan isinya kemarin – kemarin. 

Jadi, sejak kapan sepeda ungu cantik yang harus segera kuberi nama itu menjadi milikku ? tepatnya tidak tahu. Tapi rasanya, semenjak aku SD, sepeda itu sudah ada dirumahku. Sepeda itu tinggi, dan stylenya beda banget dengan tren style sepeda waktu itu (dan sekarang juga, mungkin). Dia itu sejenis sepeda Watashimai (maksudnya itu loh sepeda yang ada di iklan minuman isotonik yang ada lagunya : watashimaiiiii..). intinya sepeda itu tampaknya didesain untuk pelajar perempuan kesekolah, dan ketika kubilang ke sekolah, berarti benar – benar ke sekolah. jadi ada tempat untuk menyelipkan buku – buku, bangku penumpang yang bisa jadi tempat tas disaat darurat... 

Dulu, bisa naik sepeda itu adalah prestasi tertinggi dalam karier bersepeda saya. Karena sepedanya tinggi (dulu), sulit banget untuk bagi seorang saya yang mengalami kelambatan dalam belajar bersepeda untuk selamat sampai tujuan bila naik sepeda itu.

Kasian bangetnya, karena saya bukan orang yang bisa naik sepeda terus – terusan dengan selamat, sepeda itu jadi rusak sana sini. Dan ini merupakan dosa terbesar saya pada sepeda cantik itu. 

Dan suatu hari, entah kapan. Dugaan saya jaman saya SMP, sepeda itu nggak dipake lagi. aku juga nggak tahu apa alasan pasti penyebab sepeda itu tertanggal begitu saja. Yang jelas, ia mandeg nggak mau dipake lagi, karena ia memutuskan untuk melukai kakinya sendiri dan organ pentingnya, rantai.

Lalu kemarin – kemarin, setelah sekian tahun cuti (kalau nggak mau dibilang pensiun), aku dan ibu membawa sepeda itu ke bengkel depan. Rada harus sembunyi muka juga sih, soalnya kami bawa sepeda itu ke bengkel motor. Tapi who cares ? (oke, banyak yang ngeliatin sih), sepeda itu motor juga. Sepeda itu motor sehat pecinta lingkungan yang takkan menguras saku untuk BBM, dan tak perlu izin mengemudi. 

Jadi akhirnya, after years, sepeda itu terbang kembali. 

Sorenya, aku ngajak Alfan bersepeda. Sekalian first official flightnya sepeda ungu itu. tapi sayang banget, kalau dulu sepedanya yang mogok, sekarang aku yang mogok (diluar kehendakku, tentu saja) 

Kalau hipotesisku benar, aku menderita tekanan darah rendah atau kurang darah. Karena baru aja bersepeda sekian menit (hal yang biasa dulu aku lakukan –dulu berarti duluuuuuu-) aku langsung tepar duluan. Yah, nggak tepar – tepar banget sih. Penglihatanku langsung memudar, item – item ga jelas lah, jantung aku berdetak nggak karuan (karuan sih sebenarnya), dan nggak tahu ada hubungannya atau engga, yang jelas lidah aku langsung kerasa pait banget. Pokoknya first flight after years yang aku bener – bener gagal dah. Haha.
Padahal first flight ini, aku mengkhawatirkan sepedanya, bukan aku. takut organ utamanya, si rantai, lepas lagi. kalau lepas terus, bisa – bisa beneran pensiun selamanya ini sepeda cantik. Dan aku, meskipun hanya bisa bersepeda rutin didalam kalender, tidak akan mau itu terjadi. Mungkin kali ini si sepeda bilang : “tuh liat kan ! ternyata kau yang capek duluan” 

Oh tak tahulah aku.


Kalau Indonesia Heboh Sea Games *tulisan jaman sea games*


AKu menulis ini ribuan tahun lalu. jaman - jamannya sea games masih mengudara. 

Kalau indonesia heboh Sea Games, Asih Putera, atau setidaknya panitia AP Basket juga heboh sama Asih Putera Basket Cup 2011. Kompetisi basket eksternal perdana di Madrasah Asih Putera. Dan aku somehow dilibatkan menjadi satu dari dua bendahara kepanitiaan. Shock ? yep. karena sepanjang sejarah keorganisasian aku, aku selalu ditempatkan sebagai seksi publikasi dokumentasi. I got promotion ! yeaaah ! 

Pekerjaanku, tentu saja nggak jauh – jauh dari yang namanya duit. Kalau anda kira rasanya menyenangkan melihat uang segepok – gepok begitu, ah, belum pernah jadi bendahara mungkin anda. Melihatnya saja sih menyenangkan, tapi kalau sudah masuk ke prosesi hitung menghitung, butuh keajaiban untuk menikmatinya sebagai satu hal yang merupakan pleasure. Dan untuk orang yang mengalami kesulitan matematika sepertiku, menjadi bendahara itu anugerah sekaligus derita, bisa dibilang. Soalnya butuh waktu lama untukku menghitung uang – uang itu sampai hundred percent yakin jumlahnya benar. 

Sebenarnya jadi bendahara itu paling galau. Karena bendahara itu yang paling sering liat uang masuk dan uang keluar. Dan terkadang uang keluar itu lebih sering daripada uang masuk. Menyakitkan. Tajam. 

Kaptenku, Tia Muthia a.k.a. timut a.k.a. timtamuth bahkan merasakan terluka hatinya (exceeding) gara – gara uang yang kami hitung itu bukan uang kita. I dont feel that, i just feeling sad seeing money came in and out, and mostly, out. Kalau kita sedang dalam kondisi critical, bendahara yang pasti tahu pertama dan itu benar – benar memutar jiwa.

Its just like count today, gone tomorrow. Such an ironic. 

I talk about this in front of my family. Some of them just laugh, some of them just quiet still, and only my papa who gave a comment :
“ya kenapa harus sedih coba ? tukang parkir juga itu mobilnya banyak, bagus – bagus lagi. terus mobilnya pergi juga enggak sedih.”
I remains quiet. I just dont know that it was an opening for moral comment :
“sebenarnya itu analogi apa yang kita miliki. Semuanya itu Cuma titipan dari Allah.” 

Yah, well, its true. Its makes me sure that my father always has his own point of view. And its always different from what we thought.
--

Yah selain moral experience, ada juga lifechanging experience. 

Aku dan motor itu seperti aku dan math. Aku hanya akan melakukannya kalau terpaksa.
Aku tidak tahu kenapa, tapi naik motor dengan orang lain selain papaku itu merupakan siksaan tersendiri. Mungkin karena aku tahu Papa selalu tenang ketika membawa motor. Menyalipnya tak pernah keterlaluan, dan tipe yang sabar menunggu. Teladan bagi yang bermotor. 

And then it comes to my friends. They all were half or even three quarter racers ! 

Dan sebagai panitia, aku harus mau berkeliaran, menyampaikan proposal, undangan, atau apa saja lah. Via motor. 

Menyampaikan proposal saja itu sudah buruk. Ditambah posisi penerima proposal itu somewhere in the city yang pastinya highwaynya mengerikan. Dan ada embel – embel motor dibelakangnya. Oh God. Its just simply a living hell. a

Jadi aku menolak habis – habisan. Dan untungnya bapak ketua direktur senior membatalkan his order, jadi aku bisa selamat dari naik motor, i could breathe a relief. 

Yah, well, itu tak bertahan lama. karena suatu hari kemudian, aku terpaksa naik motor. 

Selama ap basket, aku, unofficially memegang stand minuman. Dan karena harga, itu SANGAT butuh recehan. Hari itu, kami benar – benar desperately butuh recehan.
We scanning options, atau mungkin aku doang. Akhirnya aku punya ide untuk bongkar celengan lagi karena dicelengan aku recehannya Allahuakbar.
Problemanya adalah, celengan ada dirumah. Dan how do i come home fastly ? since i cant left my stand alone too long.
Jadi ternyata aku harus naik motor, saudara – saudara. I just stand still for a while, wipping my fears away.
Yang tidak aku sadari adalah, driver yang ku hire for free ( atau sebenarnya dia yang menawarkan diri) itu ternyata half racer. Or quarter racer. Yah pokoknya dia punya racer blood inside her veins.
If im not thinking about what people will think, i will screaming all the way.
I never been that fast in motorcycle. I never been that way before in motorcycle. Its my first experience and it will be the last, i promised my self.

*well then i’m still enjoying on ride with my friends by motorcycle. Well, several of my friends*

Traumatic Events


For me, kalau ada yang bilang : kenyang asam garam hidup, well, dia belum sepenuhnya merasakan derita dan perjuangan, karena ia nggak bilang kenyang asam, garam, basa dan airnya sekalian. (baru belajar kimia)
 
Tapi inti dari cerita ini bukan begitu. 

Last day something happened. Ada gempa.

Meskipun gempanya nun jauh disana, terhadang laut dan daratan yang kayaknya nggak akan ada habisnya kalau anda trolling jadi siput *9gagmode*, earthquake yang satu ini affect me deeply enough to make me berkaca – kaca *wow. Apa bahasa inggris dari berkaca – kaca ?*
Its creepy and broke my heart to see those people in Aceh yang begitu ngerasain gempa, langsung panik, dan jelas, paniknya beda dengan panik kalau orang bandung ngerasain gempa. Mungkin karena trauma masa lalu, mereka semua paniknya beda. Just see sorot mata mereka semua. Ada ketakutan yang sangat murni disitu. Well, mungkin semua orang yang terkena gempa pasti akan murni panik. Tapi ini, sorot matanya.. beda. Its just like that mereka menampakkan sorot mata yang menceritakan bagaimana semua penderitaan yang mereka alami ketika tsunami delapan tahun lalu.  

And its inspire me to wrote something about traumatic events.
Aku sendiri, apakah punya hal – hal trauma ? well, selain trauma kehidupan sebelumnya (suatu saat aku akan membahas ini di post lain), mungkin aku tidak punya trauma lain yang bertahan sampai puluhan tahun. Mungkin sekitar tiga empat tahun paling lama. meskipun, still, aku punya trauma besar dengan matematika (ini... dibahas ribuan tahun yang akan datang saja)
 
But my Papa.. my Papa.. well, my Papa.. i thought beliau pasti punya banyak banget traumatic events. Karena rasanya, sepanjang ceritanya pada kami bertiga anak – anaknya, selalu saja ada kejadian mengerikan yang mungkin tidak akan sanggup ditahan memori kami bertiga. 

Waktu tsunami Aceh dulu, tahun 2004, aku masih kelas empat SD dan nggak tahu apapun soal tsunami dan hanya tahu sedikit sekali soal gempa, mengalami stress tidak langsung paska tsunami aceh itu. soalnya, dulu, Bapa aku ditugaskan di Aceh, tepat ketika tsunami terjadi. 

Well, i just curious apakah beliau masih memiliki trauma kalau terjadi gempa ? beliau jawab iya, tapi dulu, ketika masih tinggal di Aceh paska tsunami. Dulu, kalau pun kasur tempat beliau tidur goyang sedikit, beliau akan langsung lompat dan terbawa suasana. Sehabis itu, meskipun terkena beberapa kali gempa di kantornya di lantai 8 di Jakarta, beliau tidak pernah sepanik dulu. Bisa jadi karena memang time heal everything, atau karena gengsi kalau mau teriak – teriak panik, karena seluruh karyawan yang ada di gedung itu, meskipun ada panic attack karena gempa, nggak akan sampai berteriak panik atau lari dengan kecepatan atlet lari olimpiade. 

Beliau juga pernah cerita mulai dari bagaimana kesasar di hutan, jatuh dari pohon atau sesuatu yang kayaknya hanya bisa dicecap lewat berita : bikin irigasi ditengah – tengah keadaan Aceh yang lagi kritis (waktu itu masih jaman – jamannya baku tembak), hidup terpelosok di Irian, etc. A man with hundred stories he is, and i love him. So much :)

untitled

ohya, tentu saja, aku seperti hantu di foto ini :D 

I just came across this photo, and i just suddenly realize how much i missed this class. Journalist class.
I missed how we wrote all day long (well,i guess its just me), i missed how i missed this class everyday, i missed how i often considered to only attended school in Friday because i had this class on Friday only, i missed how i wonder about what will we write on this class all week long, i missed how i wonder what will our teacher told us, i missed what will we learn in the next class,i missed the sight of those books and newspapers that our teacher bring every Friday, i missed how happy i am when i’m on this class. 

This class definitely had become my life.  I always felt that this class is full with hopes and chances for my future, so when i heard that journalist class will be suspended (well, undirectly speaking), i just felt like : “there’s nothing to do in school anymore. no more school. Lets go find another thing to do.”

And suddenly i just leave writing. I remember those dark times (wow, heavy word) when i didnt write anything outside lessons since i just feels like.. i have nothing to do with writing. I just.. well, then i realize i cannot live without writing something, without doing any creative writing. 

Writing is my life. Since i was born, i guess. I love writing. 

But still, i missed my journalist class. So much.  


pYzam Page Pets
FreeFlashToys Page Pets